Menjadi Saksi dalam Perbedaan Untuk Satu Indonesia

0
motion_photo_4289112330022294986
Spread the love

SB // Surabaya – Menjadi Saksi dalam Perbedaan untuk Satu Indonesia
Surabaya, 9 Maret 2026 – Dalam suasana kebangsaan yang penuh makna, momen tahun ini menjadi peristiwa yang cukup langka karena perayaan besar dari tiga tradisi keagamaan berlangsung hampir bersamaan: masa puasa Ramadan umat Islam, persiapan Idul Fitri, serta perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu.

Menanggapi momen kebersamaan lintas iman tersebut, GBT Pniel Surabaya bersama Yayasan Pelitah menggelar kegiatan sosial berbagi takjil kepada masyarakat di sekitar Jalan Genteng Kali No. 59–61, Surabaya.
Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari, mulai 9 hingga 12 Maret 2026, setiap hari pukul 15.30 WIB hingga selesai, dengan jumlah 250–300 paket takjil per hari yang dibagikan kepada masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.

Program ini menyasar pengendara sepeda motor, pengemudi ojek online, serta masyarakat umum yang sedang dalam perjalanan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengendara roda dua, pengemudi ojek online, hingga beberapa pengguna mobil yang berhenti untuk menerima paket takjil.
CEO GBT Pniel Surabaya, Erlin Soetojo, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial, tetapi juga bagian dari pembelajaran iman bagi jemaat.
Menurutnya, gereja ingin melatih jemaat untuk menghadirkan nilai kasih dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan bentuk pelatihan bagi jemaat untuk melaksanakan program gereja, yaitu menjadi saksi kasih. Kesaksian iman tidak cukup hanya dalam narasi atau kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata kepada sesama,” ujar Erlin Soetojo.
Ia juga menegaskan bahwa toleransi tidak berhenti pada sikap saling menghargai, tetapi harus berkembang menjadi tindakan saling berbagi dan peduli.
“Toleransi tidak sebatas saling menghargai, tetapi juga saling berbagi kasih dalam kesadaran kebangsaan yang berbingkai Pancasila dengan filosofi Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh berbeda-beda, tetapi tetap satu Nusantara, satu Indonesia,” tambahnya.
Dalam interaksi sosial sehari-hari, lingkungan sekitar gereja menjadi fokus utama pelayanan sosial jemaat. Melalui kegiatan sederhana seperti berbagi takjil, jemaat diajak untuk membangun relasi kemanusiaan yang hangat dengan masyarakat sekitar.
Momen ini juga menghadirkan pemandangan yang indah: di tengah perbedaan keyakinan, ada senyum yang saling bertukar—yang satu melayani dengan kasih, yang lain menerima dengan rasa syukur. Nilai kebersamaan seperti inilah yang menjadi kekuatan budaya Nusantara dan terus dijaga dari generasi ke generasi.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan bersama dalam keberagaman bangsa Indonesia.
Di akhir kegiatan, panitia juga menyampaikan doa dan harapan bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.
“Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga sampai pada hari kemenangan Idul Fitri dengan penuh sukacita. Kami juga menghormati saudara-saudara umat Hindu yang akan merayakan Hari Raya Nyepi. Semoga damai selalu menyertai Indonesia,” tutup Erlin Soetojo.

Rudy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *